Umratul Qadha, antara Kesabaran dan Umrah Yang Menggentarkan Musuh

Kajian Muslimah. Ust. DR. Aminullah, MA
Sebelum memasuki uraian tentang umratul qadha’ yaitu umrah pengganti. Kita mesti mengetahui tentang perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Kaum Muslimin Madinah, dalam hal ini dipimpin oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan kaum musyrikin Mekkah. Ini terjadi pada pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 setelah beliau hijrah dari Mekah ke Madinah. Perjanjian ini terjadi di Lembah Hudaibiyah, berada di pinggiran Kota Mekah.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kembalinya Ka’bah Dalam Pangkuan Kesucian Islam

Berawal dari musyrikin quraisy yang melanggar perjanjian hudaibiyyah. Mereka bersama sekutunya bani bakr menyerang orang-orang bani Khuza’ah yang bersekutu dengan kaum muslimin hingga menewaskan beberapa orang. Karena tidak siap berperang, orang-orang Bani KKhuza’ah  mencari perlindungan di daerah haram ( daerah mekkah yang didalamnya tidak boleh terjadi kekerasan ). Akan tetapi mereka terus dikejar dan dibunuh.

Setelah tersadar, melakukan kekerasan di daerah haram, beberapa orang bani bakr bertanya pada pimpinannya, Naufal bin Mu’awiyah: “Kita telah memasuki daerah haram, bagaimanakah tuhan-tuhan anda?” Naufal menjawab : “Hai orang-orang bani bakr, hari ini tidak ada tuhan…. lampiaskan pembalasan kalian..!”

Orang-orang bani khuza’ah ketakutan mendengar musuhnya menghalalkan kekerasan di tanah haram. Mereka segera mengirimkan Amr bin Salim menemui Rasulullah. Setiba di Madinah dia langsung menghampiri nabi, yang saat itu sedang duduk di masjid di hadapan kaum muslimin. Dia melaporkan tindakan orang-orang bani bakr yang menginjak-injak perjanjian, menyerang dan membunuh orang-orang yang sedang ruku dan sujud. Selain itu ia juga berharap supaya Rasulullah bersedia membantu bani Khuza’ah menghadapi musuh yang sedang mengejar dan memeranginya.

Menanggapi keluhan dan harapan itu Rasulullah berkata : ” Hai Amr bin Salim, kalian akan tertolong”.

Merasa bersalah orang-orang quraisy melalui Abu Sufyan berangkat menuju Madinah untuk memperbaiki keadaan yang telah dirusak oleh kaumnya dengan kembali kepada perjanjian.

Setibanya di Madinah ia langsung menuju rumah anak perempuannya, ummu Habibah (istri Nabi). Tetapi ketika hendak susu ditikar, langsung dilipat oleh ummu Habibah. Menghadapi perlakuan anaknya seperti itu Abu Sufyan bertanya: “Hai Habibah, aku tidak tahu, apakah engkau lebih menyukai   aku daripada tikar itu ataukah lebih menyukai tikar ini daripada diriku?!”

Ummu Habibah menjawab :”Tikar ini adalah tikar Rasulullah, sedangkan ayah seorang musyrik dan najis!”.

Dengan rasa kesal Abu Sufyan meninggalkan rumah itu sambil berkata :”Sepeninggalku engkau akan ditimpa musibah.”. Abu Sufyan pergi mencari Rasulullah di tempat lain. Ia mengajak beliau bercakap-cakap, tetapi beliau tidak menjawab sama sekali.

Abu Sufyan kemudian meminta bantuan Abu Bakar, namun Abu Bakar menolak. Lalu ia pergi menemui Umar bin Khattab, Umar menjawab : “Apa? Aku harus membantumu menghadapi Rasulullah?! Demi Allah, sekiranya aku tahu engkau berbuat kesalahan walaupun sebutir pasir, tentu engkau akan kuperangi!”

Tidak membawa hasil, lalu Abu Sufyan menemui Ali bin Abi Thalib, Ali menjawab :”Demi Allah, hai Abu Sufyan, Rasulullah telah menghendaki sesuatu dan kami tidak dapat mempersoalkan hal itu dengan beliau..” Ali kemudian menyarankan Abu Sufyan untuk kembali saja ke Mekkah. Setibanya di Mekkah, ia memberitahukan jalan buntu yang dialaminya selama di Madinah.

Ketika itu Rasulullah sudah memberitahukan rencananya hendak berangkat ke Mekkah kepada kaum muslimin. Untuk itu beliau mengajak supaya melakukan persiapan yang sungguh-sungguh dan cermat. Beliau berdoa:”Ya Allah tunjukkanlah mata-mata Quraisy, jangan sampai mendengar berita tentang keadaan kami agar dapat menyerang mereka di negeri mereka sendiri secara tiba-tiba.”

Kaum muslimin memenuhi ajakan Rasulullah, mereka mengerahkan kekuatan dan melakukan persiapan menghadapi peperangan besar. Mereka sadar saat-saat menentukan telah datang dalam perjuangan menghadapi kaum Musyrikin Mekkah.

Dalam masa persiapan itu ternyata ada salah seorang diantara kaum muslimin yang hendak membocorkan rencana Rasulullah kepada musyrikin mekkah. Dia sengaja mengirim surat yang berisi rencana kedatangan Rasulullah dengan pasukannya ke Mekkah.

Ali bin Abi Thalib menceritakan pengalamannya tentang peristiwa itu :”Rasulullah memerintahkan kami bertiga, yaitu aku, Zubair dan Al Miqdad :”berangkatlah kalian ke sebuah raudhah (padang rumput) bernama khakh. Disana ada seorang perempuan sedang dalam perjalanan ke Mekkah membawa surat. Ambillah surat itu dari tangannya!” Kami berangkat dengan kuda dan setibanya di tempat itu kami jumpai perempuan yang dimaksud oleh nabi saw. Kami minta kepadanya supaya mau mengeluarkan surat yang disembunyikan. Ia menyahut bahwa ia tidak membawa surat. Akhirnya kami tekan: “Keluarkan surat itu, kalau tidak engkau akan kami telanjangi!” Ia terpaksa mengeluarkan surat yang di bawanya dari dalam kantong da menyerahkannya kepada kami. Kami kemudian segera pulang menghadap Rasulullah.

Ketika dibuka ternyata terdapat tulisan : Dari Hathib bin Abi Balthaah kepada kaum musyrikin di Mekkah memberitahu tengah beberapa rencana yang hendak dilakukan Rasulullah. Hathib kemudian dipanggil dan ditanya oleh Rasulullah : Hai Hathib apa maksud suratmu ini? Ia menjawab : Ya rasulullah jangan buru buru menghukum diriku. Aku mempunyai hubungan erat dengan orang-orang Quraisy, Dahulu aku pernah menjadi sekutu mereka sekalipun bukan aku yang menjadi tulang punggungnya. Diantara orag-orang Muhajirin yang bersama anda banyak yang mempunyai sanak family di Mekkah yang menjaga keluarga dan harta benda yang mereka tinggalkan. Sekalipun orang-orang Quraisy tidak mempunyai hubungan silsilah dengan ku, namun aku menginginkan supaya ada beberapa orang diantara mereka yang mau menjaga kaum kerabatku. Aku berbuat demikian bukan karena aku telah murtad dan bukan pula karena aku ingin menjadi kafir setelah aku memeluk Islam.

Rasulullah kemudian berkata kepada para sahabatnya: “orang ini telah mengatakan yang sesungguhnya kepada kalian!” Akan tetapi Umar bin Khattab menyahut : “Ya Rasulullah, biarlah kupenggal saja leher orang munafik itu!” Rasul cepat menjawab “Dia turut serta dalam perang badar! Apakah engkau tahu, kalau Allah swt meninggikan martabat orang-orang yang turut serta dalam perang badar, lalu Allah berfirman : “Berbuatlah sekehendak kalian, kalian kuampuni…?!”

Sehubungan dengan peristiwa itu turunlah firman Allah : Qs Al mumtahanah :1

Sekembalinya Abu Sufyan dari madinah, beberapa orang Quraisy berfikir hendak masuk Islam. Mereka adalah Abbas paman nabi dan anggota keluarganya.Hal ini tak lepas dari kekaguman orang-orang Mekkah  terhadap umat Islam saat peristiwa Umratul Qadha .

Dalam berjalannya ke madinah abbas berpapasan dengan Rasulullah dan pasukan muslimin yang sedang bergerak ke Mekkah. Setiba di Abwa. Pasukan itu bertemu pula dengan Abu Sufyan bin Al harits bin Abdul muthalib (bukan abu Sufyan bin harb yang berulangkali memimpin perang terhadap umat islam) dan Abdullah bin Abi Umayyah. Keduanya masih kerabat nabi, namun termasuk yang paling keras memusuhi sawah nabi. Mengingat perbuatannya yang terlampau jahat, Rasulullah memalingkan muka tidak sudi melihat mereka.

Ibadah Haji Perpisahan

Rasulullah mengumumkan niatnya untuk menunaikan ibadah haji. Beliau berangkat ke mekkah pada akhir bulan zulhaidah tahun ke 10 hijriyah, setelah mengangkat Abu Dujanah sebagai penanggung jawab keamanan di kota Madinah selama beliau tidak berada di kota itu.

Manasik kali ini berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh orang-orang arab jahiliyyah dahulu.

Sekarang mereka dilarang keras memasuki masjidil haram. Dengan demikian mulai saat itu yang melaksanakan ibadah adalah para ahli tauhid. Yaitu mereka yang hanya menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya. Berbondong-bondong kaum muslimin di berbagai penjuru menghadapkan wajah kearah Baitullah. Mereka mengetahui Amirul Hajj adalah baginda Rasulullah sendiri.

Beliau kemudian berkhutbah  yang garis besarnya adalah sebagai berikut :

“Hai kaum muslimin, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan,mungkin sehabis tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian (dalam keadaan seperti ini) di tempat ini untuk selama-lamanya… Baca lebih lanjut