Kebiasaan Ulama dan Tadarus Al-Qur’an Di Bulan Ramadhan

MADINATULIMAN – Dibulan Ramadhan umat Islam dianjurkan memperbanyak melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, baik siang maupun malamnya. Disamping shalat tarawih, juga dengan shadaqah, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan berbagai amalan kebajikan lainnya.

Terkait dengan membaca Al-Qur’an sendiri, adalah boleh dibaca kapanpun, terlebih dibulan yang penuh dengan rahmat dan keutamaan seperti bulan Ramadhan. Maka, hendaknya di bulan Ramadhan umat Islam memperbanyak membaca Al-Qur’an, sebab generasi salafunash shaleh pun sangat menekankan hal ini. Mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, bahkan mengkhatamkannya.

Diantara para generasi salaf, bahkan ada yang sampai meninggalkan kebiasaan pembacaan hadits yang telah lumrah dilakukan dan beralih fokus pada membaca Al-Qur’an, sebagaimana ini dilakukan oleh Imam Malik rahimahullah,

وكان مالكٌ رحمه الله إذا دخلَ رمضانُ تركَ قراءةَ الحديثِ وَمَجَالسَ العلمِ وأقبَل على قراءةِ القرآنِ من المصْحف.
“Imam Malik, ketika memasuki bulan Ramadhan, ia meninggalkan sementara kebiasaan membaca Hadits dan majelis-mejelis taklim, kemudian beralih pada pembacaan Al-Qur’an dengan mushhaf”.

Banyak generasi-generasi umat Islam terdahulu mengkhususkan bulan Ramadhan dengan memperbanya membaca Al-Qur’an. Menurut Az-Zuhri, ramadhan adalah bulan tilawah.

كان الزُّهْرِيُّ رحمه الله إذا دخلَ رمضانُ يقول إنما هو تلاوةُ القرآنِ وإطْعَامُ الطَّعامِ.
“Az-Zuhri rahimahullah, ketika memasuki bulan Ramadhan ia mengatakan, Ramadhan adalah bulan tiwalatil Qur’an dan bulan memberi jamuan makan”.

Kefashihan dan kelancaran dalam membaca disertai karomah-karomah yang dimiliki generasi-generasi Islam terdahulu, membuat mereka sangat mudah mengkhatamkan Al-Qur’an. Misalnya seperti Qatadah rahimahullah, Ibrahim Al-Nakh’iy, Al-Aswad, Al-Azdi, Muhammad bin Wasi’, dan lain sebagainya.

وكان قتادةُ رحمه الله يخْتِم القرآنَ في كلِّ سبعِ ليالٍ دائماً وفي رمضانَ في كلِّ ثلاثٍ وفي العشْرِ الأخير منه في كلِّ ليلةٍ.
“Qadatah rahimahullah, ia selalu mengkhatamkan Al-Qur’an pada setiap 7 malam, sedangkan pada bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, adapun pada 10 terakhir bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam”

وكان إبراهيمُ النَخعِيُّ رحمه الله يختم القرآن في رمضان في كلِّ ثلاثِ ليالٍ وفي العشر الأواخِرِ في كلِّ ليلتينِ
“Ibrahim Al-Nakh’iy rahimahullah mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap 3 malam, dan pada 10 terakhir bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 2 malam”.

وكان الأسْودُ رحمه الله يقرأ القرآنَ كلَّه في ليلتين في جميع الشَّهر
“Al-Aswad rahimahillah membaca Al-Qur’an seluruhnya pada 2 malam di seluruh bulan, termasuk bulan Ramadhan”.

الْأَزْدِيّ يخْتم الْقُرْآن فِي رَمَضَان كل لَيْلَة
“Al-Azdi (tabi’in tsiqah) mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap malam”

محمد بن واسع كان يختم القرآن في رمضان في كل ليلة
“Muhammad bin Wasi’ mengkhatamakan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap malam”

كَانَ أَبُو حَنِيْفَةَ يَخْتِمُ القُرْآنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَكْعَةٍ
“Imam Abu Hanifah mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam dalam satu raka’at”.

كَانَ سَعِيْدُ بنُ جُبَيْرٍ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِيْمَا بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعَشَاءِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ
“Sa’id bin Jubair mengkhatamkan Al-Qur’an diantara Maghrib dan ‘Isya’ pada bulan Ramadhan”

Kebiasaan-kebiasaan generasi-generasi terdahulu umat Islam diatas, rutin mereka lakukan, dan ketika di bulan Ramadhan, sebagian dari mereka semakin meningkatkan dan lebih bersemangat membaca atau mengkhatamkan Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an sendiri pada bulan Ramadhan termasuk bagian upaya menegakkan atau memeriahkan bulan Ramadhan dengan amal ibadah. Sebab Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam telah bersabda :

من قام رمضان ايماناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه
“Barang siapa yang menegakkan bulan Ramadlan, (dan dilakukan) dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, menegakkan bulan Ramadhan sejatinya tetap sudah terpenuhi dengan melaksanakan shalat Tarawih, namun bagi mereka yang ingin memperbanyak ibadah tentunya bisa melaksanakan berbagai ibadah-ibadah sunnah lainnya, seperti memperbanyak shalat malam dan membaca Al-Qur’an. Imam Al-Shan’aniy, didalam kitabnya Subulussalam mengatakan :

(وقيام رمضان) أي قيام لياليه مصليا أو تاليا قال النووي قيام رمضان يحصل بصلاة التراويح وهو إشارة إلى أنه لا يشترط استغراق كل الليل بصلاة النافلة فيه ويأتي ما في كلام النووي
“Menegakkan bulan Ramadhan yaitu menegakkan malam bulan Ramadhan dengan shalat atau membaca Al-Qur’an. Imam Al-Nawawi berkata : menegakkan bulan Ramadhan sudah terpenuhi dengan shalat tarawih, dan itu isyarat bahwa tidak disyaratkan melaksanakan shalat sunnah pada seluruh malam”.

Syaikh Al-Munawi didalam kitabnya Faidlul Qadir mengatakan bahwa menegakkan bulan Ramadhan adalah menegakkan keta’atan di bulan Ramadhan dengan melaksanakan shalat tarawih dan menghidupkan malam-malamnya dengan berbagai ibadah. Kemudian Syaikh Al-Munawi melanjutkan :

ويحصل بنحو تلاوة أو صلاة أو ذكرا أو علم شرعي وكذا كل أخروي ويكفي بمعظم الليل وقيل بصلاة العشاء والصبح جماعة
“Menegakkan bulan Ramadhan juga dapat dilakukan dengan tiwalah Al-Qur’an, shalat, melakukan berbagai dzikir, atau belajar ilmu-ilmu agama dan demikian juga dengan melakukan berbagai amal-amal ukhwari, namun sudah dianggap menegakkan malam Ramadhan dengan menganggungkan malamnya, bahkan dikatakan sudah mencukupi dengan shalat Isya’ dan shubuh berjama’ah”.

Berbagai hal yang dikerjakan oleh para ulama dan komentar-komentar ulama merupakan tanda bagi kita, bahwa membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan benar-benar sangat dianjurkan sehingga mereka pun mengkhususkan bulan Ramadhan dengan meningkatkan amaliyah-amaliyah mereka.

Maka, tepatlah ungkapan yang menyatakan bahwa “Ramadhan Syahrul Qur’an (Ramadhan adalah bulannya Al-Qur’an). Disamping, Allah SWT pun telah berfirman didalam Al-Qur’an :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Tepat pula ungkapan yang menyatakan bahwa “Ramadhan adalah bulannya umat Islam”, sebab dibulan Ramadhan inilah umat Islam berupaya meningkatkan berbagai ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SAW, disamping melaksanakan kewajiban puasa itu sendiri. Sehingga Ramadhan menjadi bulan yang benar-benar istimewa bagi umat Islam. Maka, tepat matan sebuah riwayat, meskipun sanadnya oleh sebagian ulama dinilai dloif, yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي
“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku (Nabi Muhammad) dan Ramadhan adalah bulan umatku (yakni umat Islam, umat Nabi Muhammad)”

Demikian juga ungkapan-ungkapan lain seperti Ramadhan Syahrul Jihad (perjuangan), Ramadhan Syahrud Du-a’ (do’a), Ramadhan Syahrul Maghfirah (pengampuan), Ramadhan Syarush Shabr (kesabaran), Ramadhan Syahrul Mubarak (bulan yang penuh barokah), Ramadhan Syahrul ‘Amal, dan lain sebagainya. Semuanya memang terkumpul didalam bulan Ramadhan yang mulya ini.

Oleh karena itulah, umat Islam di berbagai dunia menggiatkan diri membaca Al-Qur’an atau tadarus Al-Qur’an di bulan Ramadhan, termasuk juga di Indonesia. Selain membaca sendiri-sendiri, diantara mereka juga ada yang melakukan bersama-sama. Seperti, misalnya ada yang membaca, sebagian mendengarkan serta memperhatikan bacaan tersebut. Syaikh Nawawi Al-Bantani didalam kitabnya Nihayatuz Zain mengatakan

فَمن التِّلَاوَة المدارسة الْمعبر عَنْهَا بالإدارة وَهِي أَن يقْرَأ على غَيره وَيقْرَأ غَيره عَلَيْهِ وَلَو غير مَا قَرَأَهُ الأول
“Diantara cara membaca Al-Qur’an adalah mudarasah, yang sering disebut dengan al-Idarah, yaitu seseorang membaca Al-Qur’an atas orang lain, dan orang lain itu juga membaca Al-Qur’an padanya, meskipun apa yang dibaca oleh yang lain tidak seperti yang orang yang pertama”.

Hal ini juga sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alayhi wa Sallam bersama Malaikat Jibril, disebutkan didalam Shahih Al-Bukhari,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam orang yang paling dermawan diantara manusia. Dan beliau paling pemurah pada bulan Ramadlan ketika Jibril bertemu beliau, Malaikat Jibril selalu mengunjungi Rasulullah pada setiap malam bulan Ramadhan kemudian beliau menyimakkan Al-Qur’an kepadanya (melakukan mudarasah). Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam ketika dikunjungi Malaikat Jibril lebih dermawan dalam kebajikan daripada hembusan angin”.

Disamping itu, mendengarkan Al-Qur;an juga merupakan ibadah dan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Sebagaimana sebuah riwayat yang menuturkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :

مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، كُتِبَ لَهُ حَسَنَةٌ مُضَاعَفَةٌ، وَمَنْ تَلَاهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat dari Kitabullah ‘Azza wa Jalla, ditetapkan baginya kebaikan yang berlipat ganda, dan barangsiapa yang membacanya maka itu akan menjadi cahaya baginya kelak di hari qiyamat”. (HR. Ahmad)

مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ، كَانَتْ لَهُ نُورًا
“Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat dari Kitabullah maka ia akan mendapatkan cahaya Al-Qur’an” (HR. Ad-Darimi)

Maka, kebisaaan umat Islam membaca Al-Qur’an seperti di masjid-masjid, surau-surau (mushalla) dan tempat-tempat lainnya di bulan Ramadhan, bukanlah hal yang dilarang bahkan itu merupakan perbuatan yang baik dan dianjurkan.

Kebiasaan seperti ini pun merupakan bagian syiar agama Islam yang patut dilestarikan. Sungguh sangat terasa perbedaan antara malam bulan Ramadhan dengan malam lainnya, dengan adanya syiar Ramadhan berupa kebiasaan membaca Al-Qur’an yang ditampakkan, apalagi di era yang penuh dengan kebisingan seperti saat ini, memang sangat diperlukan untuk menampakan syiar agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman didalam Al-Qur’an :

مَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah , maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”.

Meskipun demikian, juga sangat diperlukan sikap bijak apabila menggunakan pengeras suara (speaker). Hendaknya diatur sesuai kebutuhan, dan jangan sampai mengganggu lingkungan masyarakat. Apalagi di lingkungan yang masyarakatnya majemuk, tentunya sangatlah beda dengan lingkungan di pedesaan. Akan tetapi, jika masyarakat sekitar tidak merasa terganggu, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s