QS Al Alaq, Turunnya wahyu pertama kali di Bulan Ramadhan dan Penindasan musyrikin

Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Ramadhan, Bulan turunnya Al Qur’an. Alangkah baiknya kita membicarakan tentang surah Al Alaq.  Surah yang pertama kali turun di bulan Ramadhan.

Kita amat bersyukur, di bulan Ramadhan ini  alhamdulillah bisa berpuasa, melakukan shalat dan berlomba-lomba melakukan amal ibadah sunnah lainnya tanpa ada halangan. Oleh karena itu Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Qur’an, mengucapkan Lailahaillallah mengakui tiada tuhan selain Allah, mohon ampun dengan istigfar sebanyak banyaknya, berdoa sebanyak-banyaknya. supaya Allah ridho kepada kita. Supaya Allah menerima amal kita, Supaya Allah memberikan surga dan menjauhkan dari siksa neraka. Supaya generasi penerus kita menyaksikannya.

Kita berharap generasi penerus kita lebih baik dari kita, supaya Islam tidak menjadi minoritas di masa datang. Baik dari sisi jumlah maupun dari sisi amalnya. Kita bisa lihat di daerah lain yang tidak seberuntung seperti  di Indonesia. yang Islamnya minoritas seperti di Rohingya, Xinjian, Palestina, Kashmir.

Bagaimana di Xinjiang umat Islam dilarang berpuasa Ramadhan, Muslim Rohingya di usir dari tanah kelahirannya, di Palestina muslim ditindas oleh Israel, Muslim Kasmir yang ditindas oleh India. Semua itu salah satunya terjadi karena umat Islam minoritas.

Bagaimana hubungannya dengan surah Al- Alaq, nanti kita akan menemukan bagaimana orang-orang kafir sangat dengki dan memusuhi Rasulullah dan umat Islam pada waktu itu.

Terjemahan QS Al Alaq :

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7. Karena dia melihat dirinya serba cukup.
8. Sesungguhnya Hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. Seorang hamba ketika mengerjakan shalat,
11. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
14. Tidaklah dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15. Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya,
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
17. Maka Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
18. Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,
19. Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

Demikian terjemahan surah Al Alaq. Kita dianjurkan untuk membaca Al Qur’an di bulan Ramadhan sebagaimana rasulullah serta para sahabat lebih giat lagi membaca Al Qur’an dibulan ini. Karena Bulan Ramadhan bulan turunnya Al Qur’an pertama kali. Yakni Surah Alaq ayat pertama sampai ayat ke lima.

Kandungan ayat mulia ini pun menekankan kita untuk membaca, dengan nama Allah yang telah menciptakan, yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Kemudian diulang lagi penekanan itu, Bacalah Tuhanmulah yang maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Oleh karena Allah menekankan kita untuk membaca, pasti ada suatu kepentingan  dalam hal membaca itu. Entah itu membaca Al Qur’an atau membaca ilmu pengetahuan (yang pada hakekatnya adalah ilmu Allah juga). Membaca pengetahuan supaya kita kuat dan menguasai ilmu dan tehnologi. Membaca Al Qur’an supaya kita kuat iman-nya. Supaya kita menyadari bahwa semua kepandaian, kekuatan, kekayaan itu adalah pemberian Allah yang maha Pemurah. Jangan sampai ketika sudah pandai, ketika sudah kaya, ketika sudah kuat kedudukannya, kita menjadi sombong dan melampaui batas seperti pada ayat ke enam dan ke tujuh.

Permusuhan dan Penindasan orang kafir terhadap Rasulullah.

Banyak fitnah mengatakan Islam disebarkan dengan pedang dan peperangan. Kemudian ada pula pendapat yang mengatakan Muhammad lah yang memusuhi orang-orang Qureisy. Dengan kata lain mereka menyalahkan Rasulullah dan umat Islam pada waktu itu, kenapa Rasul bersikap keras, berperang dengan orang-orang itu?, kenapa tidak dengan kasih sayang sehingga semua damai bisa hidup berdampingan. begitu kira-kira pendapat mereka.

Untuk menjawabnya kita akan menyimak ayat selanjutnya :

9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. Seorang hamba ketika mengerjakan shalat,
11. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
14. Tidaklah dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15. Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya,
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
17. Maka Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),

Mungkin ada orang-orang yang beranggapan ayat-ayat Al Qur’an hanya cerita biasa yang tidak mengandung makna kehidupan. Artinya ayat-ayat dalam Al Qur’an itu terlepas dari masalah-masalah kehidupan manusia. Tidak melibatkan emosi manusia, seperti rasa takut, sedih, tangisan haru dan lain sebagainya. Akhirnya kita tidak mendapatkan makna yang terkandung di balik ayat-ayat itu. Sehingga ayat-ayat itu seperti tulisan tulisan biasa pada umumnya.

Turunnya ayat ini tidaklah serta merta turun begitu saja. Ada peristiwa dibalik turunnya QS Al Alaq ayat 9-19. Mari kita lihat azbabun nuzul turun-nya ayat ini.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata “Rasulullah akan menunaikan shalat, mendadak Abu Jahal menemui beliau dan melarangnya Shalat. Allah menurunkan ayat ini sampai ayat 16”.

Dalam riwayat lain : ” Ayat ini turun mengenai Abu Jahal yang berkata: “Jika aku melihat Muhammad sedang shalat, sungguh aku akan menginjak lehernya. Aku akan benar-benar menyungkurkan wajahnya di tanah “Kemudian Allah menurunkan ayat ini dan ayat selanjutnya”.

Dalam waktu yang lain Ibnu Abbas mengatakan “Suatu saat nabi akan melaksanakan Shalat, lalu Abu Jahal datang dan berkata : “Bukankah aku telah melarangmu melakukan in?” Beliau menolaknya. Abu Jahal kembali berkata : “Kamu pasti tahu, tidak ada golongan yang lebih banyak pendukungnya melebihiku” Maka Allah menurunkan “Maka biarlah dia memanggil golongannya…(HR. Ahmad, At Tirmidzi dan periwayat lainnya).

Dari riwayat di atas kita dapat membayangkan bagaimana kira-kira sosok yang bernama Abu Jahal. Seorang penguasa suku Qureisy yang punya massa pendukung paling banyak, tidak ada orang yang pendukungnya melebihi jumlahnya daripada dia. Penguasa yang paling berpengaruh di Mekkah.

Sedangkan Rasulullah kala itu jumlah pengikutnya masih sangat sedikit. Sehingga orang-orang kafir pada waktu itu sangat leluasa mengintimidasi beliau.

bersambung ..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s