Turunnya Wahyu Pertama dari Al Qur’an

1. Turunnya Al Qur’an Pertama kali / Turunnya Wahyu Pertama yakni surat Al Alaq ayat 1-5 Kepada Nabi Muhammad saw

Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad saw sering menyendiri (beruzlah) di gua Hira. Bersemangat mencari Hakekat kebenaran di tengah hiruk-pikuk kejahiliahan (jaman kebodohan) yang melanda masyarakat Quraisy. Waktu itu dijaman jahiliyyah marak perilaku-perilaku menyimpang seperti : berhala dijadikan tuhan, bahkan makanan yang dijadikan berhala setelah disembah kemudian dimakan pula. Bayi-bayi wanita dikubur hidup-hidup, minum khamr, judi dan berbagai kenikmatan hidup yang menyesatkan seolah menjadi wabah yang hampir menyerang seluruh lini kehidupan masyarakat Qureisy kala itu.

Tatkala menginjak tahun uzlahnya yang ketiga, yakni tahun 610 M ketika beliau berusia genap 40 tahun, Pada waktu itu beliau tengah sendirian beruzlah di Gua Hira, tiba-tiba datang Malaikat Jibril AS mewahyukan surat Al Alaq ayat 1-5. Berikut ini riwayat turunnya ayat pertama dari Al Qur’an.

Imam Ahmad رحمه‮ ‬الله meriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, dia mengatakan: “Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah mimpi yang benar melalui tidur. Di mana beliau tidak bermimpi melainkan datang sesuatu seperti Shubuh. Setelah itu, beliau menjadi lebih senang mengasingkan diri. Kemudian beliau mendatangi gua Hira. Di sana beliau beribadah untuk beberapa malam dengan membawa perbekalan yang cukup. Setelah itu, beliau pulang kembali kepada Khadijah untuk mengambil bekal yang sama sampai akhirnya datang kepada beliau wahyu secara tiba-tiba, yang ketika itu beliau masih berada di gua Hira. Di gua itu beliau didatangi oleh Malaikat Jibril seraya berkata, ‘Bacalah!’ Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Maka kukatakan: ‘Aku tidak dapat membaca.” Lebih lanjut, beliau bersabda: “Lalu Jibril memegangku seraya mendekapku sampai aku merasa kepayahan. Selanjutnya, Jibril melepaskanku dan berkata: ‘Bacalah’, ‘Aku tidak dapat membaca,’ jawabaku. Kemudian Jibril mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Selanjutnya, dia melepaskanku lagi seraya berkata, ‘Bacalah’, Aku tetap menjawab: ‘Aku tidak dapat membaca.’ Lalu dia mendekapku untuk ketiga kalinya sampai aku benar;benar keparahan. Setelah itu, dia melepaskanku lagi seraya berkata:   ‘Bacalah dengan Nama Rabb-mu yang menciptakan’ -sampai pada pada ayat- yang tidak diketahuinya’. Dia berkata: “Maka beliau pun pulang dengan sekujur tubuh dalam keadaan menggigil hingga akhirnya masuk menemui Khadijah dan berkata: “Selimuti aku, selimuti aku.” Mereka pun segera menyelimuti beliau sampai akhirnya rasa takut beliau hilang. Selanjutnya, beliau bersabda, “Apa yang terjadi padaku?” Lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya seraya bersabda, “Aku khawatir sesuatu akan menimpa diriku.” Maka Khadijah pun berkata kepada beliau: “Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling suka menyambung tali silaturahmi, berkata jujur, menanggung beban, menghormati tamu, dan membantu menegakkan pilar-pilar kebenaran.”
Kemudian Khadijah mengajak beliau pergi hingga akhirnya dia mem-bawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay, yaitu anak paman Khadijah, saudara laki-laki ayahnya. Dia seorang penganut Nasrani pada masa Jahiliyyah. Dia yang menulis sebuah kitab berbahasa Arab dan juga menulis Injil dengan bahasa Arab dengan kehendak Allah. Dia adalah seorang yang sudah berumur lagi buta. Lalu Khadijah berkata, “Wahai anak paman, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini.” Kemudian Waraqah berkata, “Wahai anak saudaraku, apa yang telah terjadi padamu?” Kemudian Rasulullah صلى‮ ‬الله عليه وسلم menceritakan apa yang beliau alami kepadanya. Lalu Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (Malaikat Jibril) yang diturunkan kepada Musa, Andai saja saat ku aku masih muda. Andai saja nanti aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu.” Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, Tidak akan ada seorang pun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa melainkan akan disakiti. Dan jika aku masih hidup pada masamu, niscaya aku akan mendukungmu dengan pertolongan yang sangat besar.” Dan tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم benar-benar bersedih hati.

Hadits di atas diriwayatkan di dalam kitab ash-Shohihain, dari hadits az-Zuhri.

Kejadian Penting Lainnya di bulan Ramadhan :

2. Perang Badar

3. Perang Khandaq

Artikel – Artikel lain :

Akhlaq Nabi

Pengobatan Islami

Al Qur’an Menyembuhkan

Hobi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s