KA’BAH

Ka’bah adalah salah satu peninggalan agama Nabi Ibrahim as. yang dihormati oleh semua orang Arab. Ka’bah menyerupai sebuah kamar besar, dibuat dengan batu-batu kuat dan tahan lama, atapnya ditopang dengan pilar terbuat dari kayu berharga. Orang yang pertama membangun Ka’bah adalah nabi Ibrahim as bersama puteranya, Nabi Ismail as. Tujuan pembangunan Ka’bah tidak lain hanyalah sebagai tempat bersembah sujud kepada Allah, dan sebagai masjid yang didalamnya dikumandangkan keagungan nama-NYa. Bukan main kesukaran yang dihadapi Nabi Ibrahim as, ketika beliau bertindak memerangi kepercayaan keberhalaan dan ketika beliau berjuang untuk menghancurkan tempat-tempat pemujaan berhala.

Allah SWT. Kemudian mewahyukan kepada beliau supaya membangun sebuah rumah ibadah untuk dijadikan landasan dasar dan lambang tauhid bernama Ka’bah. Tempat itu sekaligus menjadi tempat yang aman bagi semua orang. Sudah barang tentu rumah itu tidak cukup untuk menampung semua pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia. Karena itu, di sekitar Ka’bah dibangun tempat-tempat untuk keperluan itu, yang kemudian menjadi daerah haram, atau daerah suci.

Banyak orientalis yang menyangka atau menuduh Ka’bah adalah pemujaan terhadap berhala berupa batu besar yang berwarna hitam. Persangkaan yang keliru dan tidak berdasar pada kenyataan. Misal saja Ketika kita memberi hormat kepada bendera bukan berarti kita menyembah sepotong kain. Bendera hanya sebagai lambang sebuah nilai dari kemerdekaan yang patut dipertahankan.  Ka’bah  bukan dalam rangka pemujaan atau penyembahan sebuah batu, melainkan hanya sebagai Kiblat atau arah umat Islam pada waktu melaksanakan shalat. Sedangkan shalat sendiri adalah ibadah yang tertuju kepada Allah SWT yang menciptakan alam semesta ini.

Hadist yang diriwatyatkan oleh Abu Dzar berikut ini memberikan pengertian bahwa Ka’bah atau masjidil haram adalah hanya sebuah masjid, sama halnya dengan masjidil Aqsa.

“Aku pernah bertanya kepada Rasul Allah saw. Tetang masjid yang pertama yang didirikan di muka bumi. Beliau menjawab: “Al-Masjidi Haram.”  Saya bertanya lagi: lantas masjid mana lagi. Beliau menjawab: “Al Masjidil Aqsa.” Saya bertanya lagi: Berapa tahun jarak waktu yang memisahkan pembangunan dua masjid itu? Beliau menjawab: Empat puluh tahun. Setelah itu bumi adalah masjid bagimu. Dimanapun engkau berada bila waktu shalat telah tiba, shalatlah! Disitupun terdapat fadhilah. (HR Bukhari (VI/315-317, 359).

Ka’bah sebagai bangunan pusaka purbakala semakin rapuh dimakan usia, sehingga banyak bangunan temboknya mengalami retak dan bengkah. Apalagi beberapa tahun sebelum masa kenabian Muhammad s.a.w. Makkah dilanda banjir hingg menggenangi Ka’bah sedemikian rupa hingga bangunan itu hamper runtuh. Orang-orang Qureisy berpendapat perlu untuk diadakan pembangunan  kembali untuk menjaga kedudukannya sebagai tempat suci.

Dalam pekerjaan  pembangunan kembali Ka’bah, tidak diserahkan kepada sembarang orang, melainkan kepada pemimpin-pemimpin kabilah dan pemuka masyarakat Qureisy. Termasuk diantaranya Muhammad s.a.w. dan beberapa orang paman beliau.

Sebuah riwayat yang berasal dari Amr bin Dinar mengatakan , bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah menceritakan sebagai berikut :

“Ketika Ka’bah sedang dibangun kembali. Muhammad s.a.w. beserta paman beliau, Abbas, turut bekerja mengangkut batu-batu. Saat itu “Abbas berkata kepada beliau: Taruhlah kainmu di atas pundakmu untuk melindungi dari batu. Saran pamannya itu dialksanakan, ketika beliau belum diangkat Allah SWT. Sebagai nabi dan rasul. Pada saat sedang bekerja mengangkut abut tiba-tiba beliau jatuh. Dengan mata memandang kelangit beliau berkata: Kainku!..kainku!. Oleh pamandanya kain beliau segera ditutupkan pada tubuhnya hingga beliau tak tampak tidak berbusana (HR Bukhari (I/377).

Dalam kegiatan membangun kembali Ka’bah, berbagai kabilah saling bersaing hingga hampri terjadi pertikaian senjata di tanah suci. Bahaya persaingan itu makin tampak ketika  mereka mulai bersiap-siap hendak melatakkan Hajar aswad pada tempatnya semula di salah satu sudut Ka’bah. Pada saat yang gawat itu Abu Umayyah bin Al Mughirah Al Makzhumi mengajukan usul kepada orang-orang yang sedang bertengkar itu supaya mencari penyelesaian dengan jalan: menyerahkan keputusan atas persoalan yang dipertengkarkan itu kepada orang yang pertama yang akan masuk kedalam Ka’bah melalui pintu “Ash Shafa.” Atas kehendak Allahh SWT.  Ternyata orang yang pertama masuk adalah Muhammad s.a.w. Ketika mereka melihat beliau masuk, semuanya berteriak: Itulah dia Al-amin (orang yang paling terpercaya, yakni nama panggilan Muhammad s.a.w. yang diberikan masyarakat kepada beliau), kami rela menerima keputusannya!

Muhammad s.a.w. kemudian minta sehelai kain, setelah dihamparkan, beliau mengambil Hajar aswad lalu diletakkan di tengah-tengahnya. Beliau memanggil semua kepala Kabilah yang saling bertengkar dan diminta  supaya masing-masing memegang tepi kain tersebut dan mengangkat Hajar Aswad kedalam Ka’bah bersama-sama. Setibanya di dalam Ka’bah beliau sendirilah yang meletakkan kembali Hajat Aswad itu pada tempatnya semula seperti sedia kala.(Kisah ini didasarkan pada sebuah riwayat hadist hasan uyang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal(III/425).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s