Kehidupan Berat

Muhammad  s.a.w. pulang dari perjalanan ke Syam untuk melanjutkan kehidupan yang berat bersama pamannya, Abu Thalib. Di mana pun tidak ada manusia besar yang hidup hanya berpangku tangan. Para nabi dan rasul terdahulu pun hidup dari hasil keringat sendiri. Mereka melakukan berbagai macam pekerjaan dan usaha untuk hidup dengan hasil usahanya sendiri. Demikian pula Muhammad  s.a.w. Pada masa pertumbuhannya beliau juga bekerja sebagai pengembala kambing. Mengenai hal itu beliau sendiri pernah menjelaskan:

“Dahulu aku menggembala kambing unttuk mendapatkan (upah) beberapa qirath dari penduduk Mekkah…(Al-Bukhari (IV/349)).

Para nabi terdahulupun bekerja seperti itu. Pekerjaan seperti itu berguna untuk melatih diri dalam menentukan kebijaksanaan umum dikemudian hari, membiasakan diri untuk berkasih saying terhadap kaum lemah dan senantiasa memberikan perlindungan kepada mereka.

Tidak diragukan lagi , bahwa takdir Ilahi senantiasa menyertai Muhammad s.a.w. dan menjaga beliau dari pandangan yang tidak tepat dan tidak lurus. Pada saat-saat  gejolak kejiwaan menginginkan kesenangan-kesenangan duniawi dalam bentuknya yang kecil-kecil dan remeh, turunlah inayat Ilahi untuk menghindarkan beliau dari soal-soal seperti itu.

Ibnu-Atsir meriwayatkan sebuah hadits, bahwasannya Rasulullah pernah bersabda :

“Aku belum pernah menginginkan sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang Jahiliyyah, kecuali dua kali, tetapi Allah mencegahku dari keinginan itu. Semenjak itu aku tidak pernah lagi menginginkannya hingga Allah melimpahkan kehormatan kepadaku dengan Risalah-Nya. Pada suatu malam aku berkata kepada seorang anak yang menggembala kambing bersama-ku di dataran tinggi Makkah: “ Maukah engkau mengawasi kambingku agar aku dapat masuk kedalam kota Mekkah untuk bergadang disana seperti biasa yang dilakukan oleh kaum pemuda?” Ia menjawab : “ Ya akan saya lakukan itu.” Aku kemudian berangkat. Baru saja aku sampai di rumah pertama dalam kota Mekkah, kudengar suara orang berpesta. Aku bertanya : “Keramaian apakah itu?” Orang-orang yang kutanya menjawab : “Perkawinan si fulan dengan si fulanah.” Aku lalu duduk mendengarkan, tetapi Allah membuat telingaku tak dapat mendengar karena aku tertidur. Ketika terjaga, kulihat matahari sudah tinggi (hari sudah panas). Aku segera kembali menemui temanku. Ia bertanya kepadaku dan Ia kuberitahu. Pada malam lainnya, kukatakn lagi kepadanya seperti malam sebelumnya, kemudian aku masuk lagi kedalam kota mMekkah, dan ternyata aku pun mengalami  keadaan seperi yang pernah kualami pada malam yang lalu. Sejak itu aku tidak pernah lagi mempunyai keinginan yang buruk. (Al-Hakim (IV/345).

Berbagai tingkat pelajaran yang berlain-lainan merupakan tahap-tahap perjuangan yang berkesinambungan untuk mendidik akal budi, untuk memperkuat daya kesanggupannya dan membuatnya berpandangan tepat mengenai alam wujud dan lingkungan hidup sekitarnya. Al-Quranul karim mengisyaratkan apa yang dicapai oleh nabi Ibrahim as. Dengan dimiliknya sifat-sifat seperti di atas tadi. Dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“… Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan hidayat kebenaran kepada Ibrahim sebelum (diturunkannya Taurat kepada Musa as) dan Kami mengetahui  (keadaannya)-nya. (ingatlah) ketika ia bertanya kepada ayahhnya dan (kepada) kaumnya: “Patung-patung apakah yang kalian tekuni penyembahannya itu ?” (QS Al Anbiya : 51-52).

Dalam hal memperoleh ilmu pengetahuan, Muhammad s.a.w. menempuh jalan seperti yang ditempuh datuknya, Ibrahim as. Beliau tidak memperoleh ilmu dari seorang pendeta, atau seorang ahlii nujum, atau dari seorang filosof yang hidup pada zamannya, tetapi memperoleh ilmu dengan akal fikirannya yang cerdas dan dengan fitrahnya yang jernih. Beliau membaca lembaran-lembaran kehidupan, mempelajari seluk-beluk manusia dan keadaan masyarakat, sehingga beliau selamat dari jahatnya ketakhayulan dan terhindar diri dari hal-hal semacam itu. Ditengah masyarakat beliau bergaul dengan penuh kesadaran mengenai apa yang menjadi urusan pribadi beliau sendiri dan apa yang menjadi urusan orang lain. Bila beliau melihat ada kebajikan di dalam pergaulan itu, beliau turut ambil bagian sedapat mungkin, tetapi jika tidak, beliau kembali ber ‘uzlah (menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat) untuk melanjutkan pengamatan dan perenungannya terhadap alam seisinya. Bagi beliau hal itu lebih mendatangkan banyak ilmu pengetahuan daripada bergelimang ditengah-tengah masyarakat yang bergelimang dosa ,karena telah kehilangan hidayat akibat penyembahan terhadap berhala. Siang malam secara terus- menerus beliau memikirkan tumpukan kesesatan lama dan baru yang sedang melanda kehidupan masyarakatnya.

Pada waktu-waktu tertentu beliau turut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan umum yang sedang menjadi perhatian masyarakatnya. Karena beliau berpendapat tidak ada salahnya turut serta dalam kegiatan seperti itu. Diantara berbagai kegiatn  yang beliau ikut di dalamnya, ialah ketika bersama para paman-pamannya dan orang sekabilahnya ikut dalam perang “Fijjar”. Kemudian setelah itu beliau turut sebagai saksi dalam “Hilful-Fudhul” (Persekutuan atau Perjanjian Bersama antara bberapa kabilah Arab untuk salng bantu dalammenghadapi musuh bersama).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s