Hilful Fudhul

Hilful Fudhul adalah suatu petunjuk bagi kita, walaupun hitamnya lembaran sejarah, betapapun merajalelanya kejahatan, namun kehidupan dunia ini tidak kosong sama sekali dari manusia-manusia yang hidup digerakkan nilai-nilai luhur yang mendorong mereka berusaha menyelamatkan keadaan dan kebajikan. 

Di dalam suasana kejahiliahan yang berlarut-larut itu bangkitlah sejumlah orang Arab yang sangat mendambakan kebjikan. Mereka saling bersepakat untuk berusaha menegakkan keadilan dan memerangi setiap bentuk Kezaliman, serta meratakan berlakunya kebajikan di tanah suci.

Ibnu-Atsir mengatakan: “… kemudian beberapa anak suku kabilah Qureisy tertarik oleh ajakan membentuk persekutuan itu. Mereka lalu bersepakat membentuk persekutuan di rumah Abdullah bin Jad’an, mengingat usianya dan kedudukannya yang terpandang. Beberapa anak suku kabilah Qureisy itu ialah : Bani Hasyim, Bani Al-Muthalib, Bani Asad bin Abdul Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab dan Bani Taim bin Murrah. Mereka bersepakat dan saling berjanji akan mencegah terjadinya kezaliman yang dilakukan oleh orang di Makkah terhadap salah seorang penduduknya atau terhadap orang dari mana pun juga yang berada di dalam kota itu. Mereka merasa berkewajiban menolak dan menentang setiap kezaliman yang hendak dilakukan orang. Persekutuan itu kemudian oleh orang-orang Qureisy dinamakan “Hilful-Fudhul”. Ketika itu Muhammad s.a.w. turut serta sebagai saksi. Dikemudian hari, setelah diangkat Allah sebagai Nabi dan Rasul, beliau berkata :

“Ketika itu aku bersama para pamanku turut sebagai saksi dalam persekutuan di rumah “Abdullah bin Jad’an. Betapa senag hatiku menyaksikan hail itu. Seandainya setelah Islam datang aku diajak mengadakan persekutuan seperti itu, pasti kusambut dengan baik”. (Diriwayatkan Ibnu Ishaq dalam “As-Sirah dan Ibnu Hisyam di dalam “Tarikh”-nya cetakan “Jamaliyyah”.

Tanda-tanda kegembiraan menjadi saksi dalam persekutuan tersebut tampak pada kata-kata pujian yang di ucapkan Rasulullah s.a.w. itu. Sebab tekad melawan  kezhaliman betapapun kuatnya , serta melindungi orang  yang diperlakukan zalim betapapun lemahnya orang itu, adalah sejalan dengan ajaran Islam yang memerintahkan amal kebaikan dan mencegah kemunkaran. Serta memerintahkan orang supaya jangan melakukan perbuatan yang melampaui batas yang telah ditetapkan Allah. Lagi pula, sudah menjadi tugas agama Islam sendiri untuk selalu menentang kejahatan dan kesewenang-wenangan, baik yang dilakukan oleh suatu bangsa maupun oleh individu di dalam masyarakat.

Sementara riwayat mengatakan, bahwa sebab yang mendorong terbentuknya persekutuan itu ialah sebagai berikut: Seorang dari kabilah Zubaid dating ke Mekkah membawa barang dagangan, kemudian dibeli oleh Al-‘Ashi bin Wa’il As Sahmi. Akan tetapi Al Ashi setelah mengambil barang yang dibelinya itu ia tidak mau membayar harganya. Orang dari Bani Zubaid itu minta pertolongan kepada beberapa anak-anak Kabilah Qureisy. Tetapi mereka tidak menghiraukan permintaannya. Pedagang Asing yang diperlakukan secara zhalim itu kemudian masuk ke dalam Ka’bah, lalu bersyair:

“Hai keluarga Fihr seorang pedagang diperlakukan sewenang-wenang di tengah kota Mekkah, jauh dari rumah dan kaum kerabat, seorang muhrim terpecil tak dapat menunaikan umrahnya, hai para satria jantan pengawal Hijr dan Hajar!, Kesucian Mekkah hanya berlaku bagi orang-orang terhormat, dan tidaklah suci bagi penipu durhaka.

Mendengar itu ubair bin Abdul Muthalib berdiri, kemudian berkata : “Itu tidak akan dibiarkan.” Beberapa orang yang disebut Ibnu Atsir dalam bukunya itu bersama-sama mendatangi Al-Ashi bin Wa’il dan berhasil mengembalikan hak pedagang yang diperkos OLEH Al Ashi. Peristiwa itullah yang mndorong mereka bersepakat membentuk persekutuan Fudhul.

Sebagaimana diketahui, Al Ashi terkenal sebagai seorang yang berperanagi buruk dan suka menunda-nunda pembayaran hutang. Suatu hari dia pernah berurusan dengan Khabbab bin Al-Arts ketika Muhammad S.a.w sudah diangkat sebagai Nabi. Khabbab adalah seorang pandai besi. Ia membuat sebilah pedang atas pesanan Al-Ashi. Selesai dibuat, pedang diserahkan kepada Al-Ashi dan ia minta supaya di bayar harganya. Al-Ashi menjawab : “Harga pedang ini tidak akan kuserahkan kepadamu sebelum engkau mengingkari Muhammad!” Dengan nada marah Khabbab menjawab : “Saya tidak akan mengingkari Muhammad sebelum engkau mati dan dihidupkan kembali oleh Allah di akhirat kelak!” Al-Ashi bertanya : “Apakah  setelah mati saya bakal dihidupkan kembali?”. Khabbab menjawab tegas: “Ya, benar!” Al-Ashi menantang: “Biarkan saya sampai mati dan dihidupkan kembali. Kelak aku akan memperoleh banyak harta dan anak. Setelah itu barulah harga pedang ini akan saya bayar.” Sehubungan dengan peristiwa itu turunlah ayat suci :

“Tahukah engkau orang yang mengingkari ayat-ayat Kami lalu ia berkata” Aku pasti akan diberi harta kekayaan dan anak. Apakah ia mengetahui rahasia ghaib atau telah membuat perjanjian dengan uhan Yang Maha Pemurah? Sekali-kali tidak! Akan Kami catat apa yang telah diucapkannya, dan Kami akan memperpanjang masa adzab baginya. Akan Kami ambil kembali apa yang dikatakannya itu, dan ia akan menghadap Kami seorang diri.” (QS Maryam:77-80).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s