Kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.

Muhammad Rasul Allah s.a.w. dilahirkan dari lingkungan keluarga yang bersih, suci serta mempunyai silsilah terhormat. Yaitu keluarga yang menjadi pusat segala keutamaan orang-orang Arab dan bersih dari noda apapun juga. Mengenai pribadi beliau sendiri, Rasul Allah s.a.w. berkata :

“sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari putera Isma’il, memilih Qureisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Qureisy dan memilih diriku dari Bani Hasyim.”(Muslim V/58)

Muhammad s.a.w. tumbuh dan dibesarkan didalam lingkungan keluarga yang mempunyai peranan tertentu bagi suksesnya Risalah yang telah ditetapkan Allah SWT. Pada masa Jahiliyyah masyarakat Arab sangat fanatik kepada kabilahnya masing-masing. Sedemikian hebatnya kefanatikan mereka sehingga blia perlu mereka tidak segan-segan menghancurkan semua kabilah lainnya demi kehormatan kabliahnya sendiri yang harus dibela, atau untuk membela kehormatan orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan kabilah mereka.

Beberapa waktu lamanya setelah lahir, Islam hidup di dalam naungan tradisi yang seperti itu sampai saat ia mampu berdiri tegak sendiri.

Nabi Luth as, dahulupun pernah mengharapkan perlindungan dengan tradisi seperti itu. Yaitu ketika beliau merasakan adanya bahaya yang mengancam keselamatan beberapa orang tamu yang menginap

Di rumahnya. Saat itu beliau tidak mempunyai sanak family yang dapat membelanya atau keluarga yang dapat memberikan perlindungan terhadap tamu-tamunya, sehingga beliau berkata kepada kaumnya:

“Hnedaklah kalian bertaqwa kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan namaku terhadap tamuku ini. Apakah tidak ada orang yang berfikir diantara kalian?” Qs. Hud:78

“Luth berkata :”seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk melawan kalian), atau aku dapat berlindung kepad keluarga yang kuat (tentu hal ini akan kulakukan).” Qs. Hud-80.

Akan tetapi Muhammad walaupun beliau berasal dari keturunan mulia, namun beliau tidak memiliki kekayaan. Sedikit harta yang dimilikinya dan kemuliaan asal usul keturunannya sajalah yang membuat beliau sejak pertumbuhannya memiliki keutamaan lebih banyak daripada semua keutamaan yang dimiliki oleh lapisan-lapisan masyarakat yang lain. Anak-ank dari lapisan atas biasanya hidup bergelimang dalam kekayaan. Manakala kekayaan yang dianggap sebagai senjata itu telah hilang, mereka masih mempunyai benteng tradisi yang memberi kemungkinan untuk memtahankan kedudukan dan kehormatannya.

Sedangkan Kakek Muhammad, yakni abdul Muthalib adalah orang yang kehormatannya terletak pada kekuatan tekadnya, kemudian cepat menonjol diantara mereka.

Abdul Muthalib adalah seorang penguasa Mekkah, yang kekuasaannya merupakan kekuasaan terakhir dan tidak menurun pada anak cucunya, karena kedudukan orang yang menyainginya semakin kuat. Kepemimpinan Abdul Muthalib beberapa tahun kemudian digantikan oleh keluarga Abdusy-Syams dengan tampilnya Abu Sufyan memimpin Mekkah. Dengan demikian kepemimpinan tanah Mekkah terlepas dari tangan orang-orang Bani Hasyim.

Abdullah sebagai anak bungsu Abdul Muthalib merupakan anak kesayangan. Oleh ayahnya ia dinikahkan dengan Aminah binti Wahb. Setelah itu ia dibiarkan mencari penghidupannya sendiri. Masih sebagai pengantin baru aminah ditinggalkannya merantau mencari rizqi. Di suatu musim panas Abdullah pergi ke Syam untuk tidak kembali selama-lamanya. Kafilah yang berangkat bersama sama ke Syam pulang ke Mekkah membawa berita tentang keadaannya yang sakit, setelah itu menyusul berita wafatnya beliau.

Sedangkan Aminah yang tengah menanti-nanti kedatangan suaminya itu, ingin segera memberitahukan suaminya bahwa ia tak lama lagi akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi buah hati mereka berdua. Namun suratan takdir menghapus cita cita dan harapan yang manis itu. Akhirnya Aminah harus rela menjadi janda.

Az-Zuhriy dalam riwayat mengatakan: “Abdul Muttalib mengutus puteranya Abdullah pergi ke Madinah untuk mengunduh kurma, kemudian ia wafat dikota itu. Sementara itu riwayat lain mengatakan, bahwa ketika itu Abdullah pergi ke Syam. Dalam perjalanan pulang dari Syam ia singgah di Madinah dalam keadaan sakit, kemudian wafat dalam usia 25 tahun. Jenazahnya dikebumikan di permukiman Nabighah Al-Ja’diy. Ia wafat sebelum Muhammad dilahirkan.

Muhammad s.a.w. dilahirka secara biasa di kota Mekkah. Tak terjadi peristiwa apapun yang menimbulkan keanehan atau yang menarik perhatian. Para penulis sejarah tidak dapat memastikan dengan tepat pada hari apa dan bulan apa serta tahun berapa beliau dilahirkan. Sebagian besar riwayat mengatakan bahwa kelahiran beliau terjadi pada tahun serangan orang-orang Habasyah terhadap Mekkah, yaitu tahun 570 M, tanggal 12 bulan Rabi’ul-awwal tahun 53 sebelum Hijrah.

Abdul Muthalib menyambut gembira kelahiran cucunya. Ia menumpahkan seluruh kasih sayangnya dan menjaga cucunya dengan hati-hati. Ia member nama cucunya Muhammad setelah dikhitan pada hari ketujuh setelah lahir. Sungguh suatu nama yang belum pernah ada. Karenanya banyak orang yang bertanya kepada Abdul Muthalib, mengapa tidak member nama ayahnya atu nama para datuknya? Dijawab oleh abdul Muthalib:” Aku ingin supaya Allah memujinya di langit dan dipuji juga oleh manusia di bumi”.

Abu Hurairah mengatakan rasul Allah s.a.w. pernah bersabda :

“Apakah kalian tidak heran, menagpa Allah menjauhkan aku dari makian dan kutukan (yang biasa dilakukan oleh) orang-oraang Quraisy”. Mereka dicela karena caci makinya, sedngkan aku dipuji”. (Bukhari VI/435-436).

Dengan penuh kasih sayang kepada puteranya, Aminah binti Wahb kini sedang menantikan kedatangan beberapa orang wanita dari daerah-daerah gurun sahara yang bekerja sebagai tukang menyusui anak. Biasanya mereka mencari-cari anak asuhan dari kalangan keluarga-keluarga kaya. Beberapa orang wanita Arab yang dating ke Mekkah untuk tujuan itu hanya bertujuan memperoleh rizqi guna meringankan beban penghidupan. Sedangkan Muhammad tidak mempunyai ayah yang bisa diharapkan pemberiannya. Dan Muhammad s.a.w. itu bukan seorang anak dari keluarga kaya yang dapat diharapkan kedermawanannya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau wanita-wanita tukang menyusui anak itu menjauhkan diri dan mencari-cari pekerjaan pada keluarga lain.

Salah satu diantara para wanita yang dating ke Mekkah itu bernama Halimah binti Abi Dzuaib dari kabilah bani Sa’ad. Ia ingin pulang dengan membawa anak susuan agar dari hasil pekerjaannya itu ia dapat memperoleh bantuan penghidupan. Pada mulanya ia tidak senang menyusui seorang anak yatim, karena dari jerih payahnya itu ia tidak akan memperoleh apa yang diinginkan. Akan tetapi ia merasa malu bila pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong. Pada akhirnya ia kembali lagi menemui Aminah dan mengatakan kesediaannya mengambil Muhammad s.a.w. untuk dibawa pulang ke rumah sebagai anak susuan.

Dengan kehadiran Muhammad s.a.w. di tengah-tengah keluarganya. Halimah merasa mendapat berkah, padahal sebelum itu ia hidup ber tahun-tahun dalam keadaan serba menderita dan serba kekurangan. Setelah menyusui Muhammad s.a.w., Allah melimpahkan kebajiakn berlipat ganda kepadanya: Kambing perahannya banyak mengeluarkan susu setelah beberapa lama kurus kering. Dan penghidupannya sehari-hari menjadi ringan, tak kurang suatu apa. Baik Halimah, suaminya maupun anak kandungnya sendiri sekarang telah merasakan benar-benar, sekembalinya dari Mekkah ternyata membawa kemudahan dan keberuntungan, bukan membawa kemelaratan dan kesengsaraan seorang anak yatim. Hal itu semakin membuat mereka tidak dapat berpisah dengan anak susuannya, bahkan merasa bangga.

Membesarkan anak-anak di tengah lingkungan gurun sahara agar hidup di bawah naungan alam bebas, agar menikmati udara bersih dan sinar matahari cerah akan membentuk kebersihan fitrah, menjamin pertumbuhan jasmani dan rohani serta menjamin kebebasan berfikir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s