Selalu Bangkit Dari Kegagalan

Zainal Arifin .., Mulanya ia hanya guru sebuah SMP di desa dekat Magelang. Dan karena gaji guru tak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, maka iapun tak sungkan untuk menarik becak mencari tambahan. Karena protes koleganya disekolah, yang menganggap usaha tambahan Zainal “merendahkan” martabat profesi guru, maka ia banting setir menjadi pedagang keripik singkong.

Pilihan itu disebabkan mudahnya membuat dan mendapatkan bahan baku serta hanya perlu modal Rp. 9.000,- pada awalnya. Setahun berdagang keripik ia sudah melayani pesanan sampai satu kuintal. Maka pada tahun 1976 itu, pembuatan keripik singkong dengan merek “Istimewa” inipun memutuskan untuk fokud. Ia meninggalkan profesi guru.

Tekad Zainal berusaha sudah bulat. Denag lebih memperhatikan mutu bahan baku (umur dan jenis singkong serta minyak goring yang digunakan), Keripik “Istimewa” berhasil dikenal sebagai keripik yang gurih, garing dan renyah. Distribusi produknya mulai banyak ditemui di took dan pasar-pasar sekitar Magelang, Semarang, Salatiga, Temanggung. Dan berkat dukungan seorang kawan dekatnya yang bersedia meminjamkan rumah di kota, Zainal pindah ke Magelang. Sebagai balas jasa anggota keluarga kawannya itu dipekerjakan sebagai karyawan.

Usaha Zainal makin berkembang. Dari satu kuintal, ia kemudian dapat menjual satu ton keripik singkong setiap bulannya. Sayang setelah kelihatan berhasil, sang kawan meminta kembali rumah yang dipinjamkannya dan menyita seluruh alat pembuat keripik sebagai ganti ongkos sewa rumah selama dua tahun. Zainal pun gagal menikmati hasil kerja kerasnya. Ia kembali kedesanya hanya dengan sebuah sepeda.

Bukan zainal namanya kalau menyerah begitu saja. Meninggalkan anak istri dikampung, Zainal mengadu nasib ke Jakarta, tahun 1978. Untungnya seorang kerabat bersedia menampungnya untuk tinggal bersama mereka. Berbekal sepeda tua, ia mencari pekerjaan sesuai dengan “kompetensi” –nya di Ibu Kota. Ia mencari pabrik keripik yang terkenal diwaktu itu dan menawarkan diri untuk menangani pemasarannya. Sekitar tiga tahun ia menaawarkan kerpik singkong merek “Nisan”. Prestasinya sangat menonjol karena ia selalu berhasil melampaui target pemasaran. Dari penghasilan yang pas-pasan, zainal menabung sedikit demi sedikit.

Tahun 1981, dengan modal awal 275 ribu dan rumah kontrakan di Pisangan Lama, Jakarta Timur, ia mengajak adik dan kerabatnya untuk memulai kembali usahanya. Hanya dengan sepeda ia menelusuri pasar dan took-toko di Jakarta menawarkan dagangannya. Kerja keras dan ketekunannya segera membuahkan hasil. Dalam waktu satu tahun ia mampu membeli tidak saja rumah kontrakan yang sempit tetapi juga tiga rumah disampingnya. Tahun berikutnya ia berpisah dengan sepeda “Umar Bakrie”-nya dan mengganti dengan dua mobil boks untuk armada penjualan. Dan tahun 1983 ia membangun kembali empat rumah yang dibelinya menjadi pabrik keripik singkong. Keuntungan bersih yang diperolehnya kala itu mencapai rp. 5 Juta perbulan.

Tak puas dengan apa yang dicapainya, ia mengembangkan usahanya dengan membuka pabrik di beberapa desa sekitar Jawa Tengah dan lampung. Pruduknya di beri nama “Sari Rasa”. Ia juga mendapat bantuan dari Departement Perindustrian waktu itu untuk melayani pembelian dari Malaysia, Australia, bahkan sampai ke Jerman dan Belanda. Ekspornya mencapai 7 ton per bulan.

Ketika harta pribadinya sudah mencapai 2 M , musibah dating lagi. Pakbrik di Pisangan Lama terbakar habis dan rumah para tetangga ikut terbakar. Terpaksa separo dari hartanya habis untuk mengganti kerugian semuanya. Sisanya digunakan untuk membeli tanah seluas 1.600 meter.

Tahun 1993 , Zainal mendapat kredit bank senilai Rp. 125 juta dengan jangka waktu 30 bulan. Kembali ia memulai bisnis dari awal. Dengan pengalaman dan saluran distribusi yang dikuasainya, ia kembali bangkit.Dan setelah 6 tahun, Zainal telah memiliki 2 pabrik lainnya di desa Jetis dan Laseman di Jawa Tengah. Dan dari ketiga pabrik itulah keripik “Sari Rasa” dikirim ke Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah ,Jawa Timur dan Lampung. Untuk Eksportnya dikirim ke Malaysia, Australia dan Belanda. Kala itu Zainal memperkerjakan 150 Karyawan. Setiap bulannya Zainal berhasil mengumpulkan penjualan senilai Rp. 200 Juta.

Dikutip dari buku “Berwira Usaha Dari Nol” karya Andrias Harefa.

cari bukunya : email ke jhon.smg@gmail.com

Motivasi Qur’an

digerakkan ide dan impian

Masalah adalah peluang

mencoba hal baru

Hobi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s